Nasional

Memasuki Masa Keemasan, Kompro 98 Dorong Petani Terus Berinovasi

27496
×

Memasuki Masa Keemasan, Kompro 98 Dorong Petani Terus Berinovasi

Sebarkan artikel ini

LAMPUNG — Di tengah situasi geopolitik global yang semakin dinamis dan konflik antarnegara yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, sektor pertanian Indonesia menghadapi tantangan besar. Ketahanan energi, ketersediaan sarana produksi pertanian (saprotan), hingga stabilitas harga komoditas menjadi faktor penting yang turut menentukan masa depan jutaan petani.

Namun, di tengah berbagai kekhawatiran tersebut, kondisi petani Indonesia justru dinilai masih cukup kuat. Berbagai kebijakan dan program pemerintah di sektor pertanian dinilai mampu menjaga produktivitas sekaligus memberikan perlindungan kepada petani dari dampak gejolak ekonomi dan geopolitik global.

Salah satu bentuk dukungan tersebut adalah alokasi pupuk subsidi yang mencapai 9,55 juta ton dengan nilai sekitar Rp45 triliun. Pemerintah juga menurunkan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi sebesar 20 persen, memberikan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), serta terus mendorong ekstensifikasi melalui program pencetakan sawah baru.

Ketua Umum Komponen Progresif 98 (Kompro 98), Anwar Syarifuddin, S.P., menilai kondisi petani saat ini relatif stabil dan belum menunjukkan keresahan yang berarti akibat gejolak geopolitik global.

Menurutnya, harga sejumlah komoditas unggulan petani, seperti sawit, karet, dan singkong, masih berada pada level yang cukup menguntungkan.

“Saat ini tidak ada keresahan di tingkat petani. Justru petani cukup bahagia karena harga-harga komoditas cukup bagus dan menguntungkan. Pupuk subsidi juga tersedia, bantuan mesin-mesin pertanian terus berjalan, dan program cetak sawah terus bergulir,” ujar Anwar.

Kondisi tersebut turut terlihat dari pergerakan harga sejumlah komoditas pertanian di wilayah Lampung dan sekitarnya. Pada pertengahan 2026, harga beberapa komoditas utama petani terpantau berada pada level yang relatif menguat.

Baca Juga  KOMPRO 98 Ajak Masyarakat Dukung Program Prabowo

Untuk singkong atau ubi kayu, harga di tingkat petani di Lampung Tengah dan sejumlah wilayah sekitarnya berada di kisaran Rp2.000 hingga Rp2.400 per kilogram. Angka tersebut berada di atas patokan harga awal pemerintah yang sebelumnya berada di kisaran Rp1.350 per kilogram.

Sementara itu, harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit mitra plasma di Lampung juga mengalami kenaikan secara periodik. Harga umum TBS di wilayah Sumatera dan Lampung pada Agustus 2026 berada di kisaran Rp2.400 hingga Rp2.600 per kilogram, tergantung kualitas dan ketentuan masing-masing wilayah.

Sedangkan untuk komoditas karet, harga getah karet atau bahan olah karet (Bokar) di tingkat petani bergerak pada kisaran Rp10.000 hingga Rp16.000 per kilogram, bergantung pada kadar karet kering serta kondisi pasar dan wilayah.

Kondisi harga tersebut menjadi angin segar bagi petani sekaligus memberikan ruang bagi mereka untuk meningkatkan produktivitas dan mengembangkan usaha pertanian secara lebih modern.

Anwar Syarifuddin menilai dukungan pemerintah terhadap sektor pertanian saat ini menjadi momentum penting bagi petani Indonesia untuk melakukan transformasi.

Menurutnya, pemerintah telah menempatkan ketahanan pangan sebagai salah satu prioritas utama, yang ditandai dengan penguatan produksi dalam negeri, modernisasi pertanian, kemudahan akses terhadap pupuk, bantuan alsintan, hingga berbagai program menuju swasembada pangan.

Baca Juga  Ketua Umum Kompro 98 Nilai Tak Ada Alasan Kuat untuk Pemilu Dipercepat

Ia bahkan menyebut kondisi saat ini sebagai salah satu momentum terbaik atau “masa keemasan” bagi petani Indonesia.

“Saat ini adalah masa keemasan bagi petani. Nilai Tukar Petani (NTP) berada pada posisi tertinggi dalam 34 tahun terakhir. Tetapi petani tidak boleh cepat merasa puas,” tegasnya.

Menurut Anwar, peningkatan kesejahteraan petani tidak cukup hanya mengandalkan bantuan pemerintah maupun tingginya harga komoditas. Petani juga harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan melakukan inovasi di berbagai lini.

“Petani harus terus berinovasi, harus mengenal teknologi untuk meningkatkan produktivitas, hingga masuk pada teknologi hilirisasi pertanian,” dorong Anwar.

Ia menegaskan, ke depan petani tidak boleh hanya menjadi produsen bahan mentah, tetapi harus mulai didorong menjadi pelaku usaha yang mampu menciptakan produk bernilai tambah.

Dengan demikian, momentum meningkatnya perhatian pemerintah terhadap sektor pertanian tidak hanya menjadi peluang untuk meningkatkan produksi pangan, tetapi juga menjadi jalan bagi petani Indonesia untuk naik kelas, semakin mandiri, dan memiliki daya saing di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Bagi Kompro 98, masa keemasan pertanian tersebut harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Petani sejahtera bukan hanya soal harga komoditas yang tinggi, tetapi juga tentang kemampuan berinovasi, menguasai teknologi, meningkatkan produktivitas, dan membangun hilirisasi agar nilai tambah hasil pertanian tetap dinikmati oleh petani.(WN)