Oleh : Bimo Seno
Kabarlampungone — Setiap manusia tentu ingin hidup berkecukupan, bahagia, dan memiliki sesuatu yang dianggap mampu membuat kehidupannya terasa lengkap. Tidak ada seorang pun yang bercita-cita menjalani hidup dalam kehancuran.
Namun, dalam perjalanan hidup, manusia kerap lupa bahwa apa yang dimiliki sejatinya hanyalah titipan. Ada waktunya datang, ada waktunya pergi. Bahkan, ada kalanya Tuhan menguji manusia melalui sesuatu yang selama ini dianggap sebagai miliknya.
Di titik itulah manusia dihadapkan pada pertanyaan besar: apakah yang sedang terjadi merupakan takdir, atau justru dorongan nafsu yang sedang mencari pembenaran?
Tidak mudah menjawabnya. Rahasia kehidupan terlalu luas untuk dipahami seluruhnya oleh manusia. Tetapi ada satu hal yang seharusnya selalu menjadi pembeda, yakni kemampuan untuk mendengarkan suara nurani.
Kisah sederhana tentang seseorang yang berencana menghadiri sebuah kajian dapat menjadi bahan renungan. Tiket telah dibeli. Keinginan untuk menghadiri acara tersebut begitu kuat. Namun ketika hari yang dijanjikan tiba, langkah ternyata tidak sampai ke tempat yang sebelumnya dikatakan.
Ke mana langkah itu pergi?
Hanya dirinya dan Allah yang mengetahui.
Berbagai kabar mungkin saja beredar. Beragam cerita bisa terdengar dari banyak arah. Namun, tidak semua kabar harus dikejar untuk dicari pembenarannya. Sebab ada kalanya kebenaran tidak perlu dibongkar melalui kehidupan orang lain. Ada kebenaran yang cukup diserahkan kepada Allah.
Dari sinilah kita belajar bahwa manusia mungkin mampu menyembunyikan sesuatu dari pandangan manusia lainnya. Seseorang bisa menyusun alasan, membangun cerita, bahkan tersenyum seolah semuanya baik-baik saja.
Tetapi ada satu tempat yang sulit untuk dibohongi: nurani sendiri.
Manusia mungkin dapat menipu orang lain, tetapi belum tentu mampu menipu hatinya sendiri.
Setiap langkah memiliki konsekuensi. Setiap ucapan memiliki pertanggungjawaban. Dan setiap pilihan pada akhirnya akan menemukan waktunya untuk kembali kepada orang yang membuat pilihan tersebut.
Mungkin manusia tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Bisa jadi orang-orang terdekat pun tidak pernah memahami seluruh persoalannya.
Namun, bagi orang yang percaya kepada Tuhan, tidak ada satu detik pun kehidupan yang luput dari pengawasan-Nya.
Karena itu, tidak ada gunanya terlalu sibuk membicarakan siapa yang berbohong dan siapa yang berkata benar. Sebab ketika seseorang terlalu sibuk menghitung kesalahan orang lain, bisa jadi ia justru lupa menghitung kesalahan dirinya sendiri.
Jika suatu hari sesuatu yang selama ini disembunyikan akhirnya terbuka, jangan selalu menganggap bahwa manusia berhasil membongkarnya.
Bisa jadi, itu merupakan bagian dari cara Tuhan mengingatkan manusia bahwa nurani yang terlalu lama diingkari pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri untuk berbicara.
Diam dalam keadaan tertentu bukan berarti tidak mengetahui.
Diam juga bukan berarti tidak pernah terluka.
Diam dapat menjadi pilihan seseorang untuk menjaga ketenangan hati dan tidak membalas sesuatu dengan cara yang sama.
Sebab setiap manusia pada akhirnya akan berhadapan dengan nuraninya sendiri.
Tidak perlu merasa paling benar. Tidak pula perlu menghakimi siapa pun. Setiap orang memiliki perjalanan, kesalahan, dan pertanggungjawabannya masing-masing.
Yang terpenting adalah bagaimana seseorang menjaga agar dirinya tidak kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada harta, kedudukan, atau kesenangan sesaat: nurani.
Sebab ketika seseorang mendapatkan sesuatu dengan mengorbankan ketenangan hatinya, belum tentu hal tersebut merupakan sebuah kemenangan.
Bisa jadi, sesuatu yang tampak seperti kebahagiaan sebenarnya adalah harga yang sedang dibayar atas sebuah pilihan.
Dan ketika semua kesenangan itu berakhir, mungkin akan tersisa satu pertanyaan yang tidak dapat dihindari:
“Untuk apa semua itu, jika hatimu sendiri tidak lagi tenang?”
Pada akhirnya, manusia boleh saja mengejar dunia. Boleh memiliki cita-cita, harta, jabatan, dan kebahagiaan.
Namun jangan sampai demi kesenangan sesaat, kita menggadaikan nurani.
Karena harta yang hilang masih mungkin dicari kembali. Kedudukan yang jatuh masih mungkin dibangun. Tetapi ketika kejujuran hati telah tergadai, jalan untuk mengembalikannya tidak selalu mudah.
Maka sebelum menilai orang lain, mungkin lebih baik kita bertanya kepada diri sendiri:
Apakah selama ini kita benar-benar telah jujur kepada orang lain, kepada diri sendiri, dan kepada Allah?
Astaghfirullahal’adzim.
